ALT_IMG

Misi orang MISIONARIS

Kehancuran umat muslim telah dirasakan karena kelemahan iman dan tidak hati-hati dalam berkehidupan, kini orang misionaris yang bertujuan mengkristenisasikan umat islam sudah berjalan dengan baik dan lancar, ironis jika dibiarkan begitu saja, ketahuilah misi orang MISIONARIS, Readmore...

ALT_IMG

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI)

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) adalah sebuah lembaga atau organisasi non pemerintah (nongovernmental organization) yang memfokuskan diri dalam pengkajian, pengembangan dan pendidikan Ilmu Falak (Hisab dan Rukyat) di Indonesia. Lembaga ini menghimpun para pemerhati dan para pakar falak dari seluruh wilayah Indonesia. (RHI)Aplikasi Online

Komunitas (RHI)
Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...



Streaming alquran dan terjemah

Selasa, 17 Juli 2012

Onta Itu Mengadu Kepada Rasulullah

0 komentar

Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.

Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw. mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam.
Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?”
Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar.
“Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya.
Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.”
Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Jihad.
Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw. lebih murka lagi.
Di kali yang lain, Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu—kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.” (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192).
Yang ini cerita Amir Ar-Raam. Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. “Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.
Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.”
Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.”
Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.
“Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu.
“Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat.
“Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.”
“Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.
Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.”
Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?”
Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264)
Jika kepada hewan saja kita memenuhi hak-haknya, apalagi kepada manusia. Adakah hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan?

Continue reading →
Senin, 16 Juli 2012

Keluarga Produktif-Kreatif

0 komentar

 Usaha Paling bersih itu adalah usaha seorang laki-laki dengan tangannya sendiri. HR Al-Baihaqi


Allah Maha Pencipta setiap makhluk; dari tiada menjadi ada. Allah sumber kreatifitas. Dari tangan-Nya lahir karya-karya besar tiada tanding, tiada banding. Dia pun menghendaki setiap makhluk-Nya kreatif dan produktif. Kalau saja setiap pasangan suami-istri menyadari hal ini, tentu, mereka akan menjadi pribadi yang kuat menantang setiap kesulitan yang dihadapinya. Setiap ada berangkat dari tiada. Setiap keberhasilan berawal dari kegagalan. Kesulitan hanyalah jalan lain menuju keberhasilan. Bukankah Tuhan penentu segala kebijakan? Semestinya kepadanya kepada-Nya kita bersandar, "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia," (QS Ya Sin[36]:82; sebab " ditangan-Nyalah kekuasaan atas segala sesuatu," (QS Ya Sin[36]:83). Seorang muslim tidak sepatutnya putus asa dalam menjemput karunia Tuhan, sebab "hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah," (QS Yusuf [12]: 87).
Continue reading →
Rabu, 20 Juni 2012

Janji Ditepati, Kemenangan Pasti

0 komentar

Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. Dalam keadaan apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat ”berkhianat” dalam kamus Islam.

Hidayatullah.com--Pada pemerintahan Umar bin Khaththab, Islam berkembang secara menakjubkan. Jumlah pemeluk Islam bertambah berkali-kali lipat seiring dengan perluasan wilayah kekuasaannya. Saat itu Islam tidak saja dipeluk oleh penduduk Arab, tapi juga oleh bangsa-bangsa non Arab, misalnya Parsi.
Bersamaan dengan itu, tentara kaum Muslimin semakin tumbuh kuat dan perkasa. Tapi betapa pun kuatnya pasukan hasil reformasi Umar itu, ada saja pihak yang masih mau mencoba membangkang. Ketenaran pasukan Umar yang telah menggetarkan dunia tidak menyurutkan niat kelompok-kelompok ekstrim untuk melakukan pemberontakan. Salah satu di antaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Harmuzan, mantan gubernur propinsi Nahawand, salah satu propinsi kerajaan Persia yang sudah ditaklukkan Islam.
Dengan modal pasukan terlatih dan loyal, disertai motivasi balas dendam yang membara, Harmuzan menyerang  pertahanan Islam. Tapi dengan kerja keras kaum Muslimin, dalam satu pertempuran yang hebat pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Harmuzan sendiri ditangkap hidup-hidup dan ditawan. Akan tetapi atas kebijakan Khalifah, ia dibebaskan hanya dengan membayar jizyah.
Namun kebaikan hati Umar tidak menyadarkannya untuk menyerah dan menjadi warga negara yang baik. Ia justru kembali menghimpun kekuatan yang jauh lebih besar. Setelah berhitung secara cermat, ia pun kembali menggempur basis pertahanan Islam. Pertempuran hebat tak terhindarkan, tapi untuk kedua kalinya pemberontakan Harmuzan dapat dipatahkan. Ia kembali menjadi tawanan. Ia kemudian dihadapkan kepada Khalifah.
“Apakah kamu gubernur Nahawand yang memberontak?” tanya Umar.
“Benar, akulah orangnya,” jawab Harmuzan.
“Bukankah kamu sering melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin?” tanya Umar lagi. “Ya, aku telah melakukan itu.”
“Apakah kamu telah menyadari bahwa hukuman atas pengkhianatan itu adalah kematian?”, “Ya, aku menyadarinya.”
“Baiklah, apakah kamu telah siap menjalani hukuman tersebut sekarang?” selidik Umar.
“Aku siap, tapi ada satu permohonan sebelum aku mati,” pinta Harmuzan
“Apa itu?” tanya Umar.
“Aku haus sekali, bolehkah aku meminta segelas air?” kata Harmuzan
“Tentu saja,” kata Khalifah.
 Setelah segelas air terhidang, Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, aku khawatir jika kepalaku dipenggal sebelum sempat aku meminum air ini.”
“Tidak akan,” tegas Umar memberi jaminan. “Tidak seorang pun yang akan menyentuh rambutmu sebelum kamu menghabiskan minuman itu.”
Suasana sunyi sejenak. Tapi segera pecah setelah Harmuzan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah berjanji kepadaku bahwa engkau tidak akan menyentuh rambutku hingga aku menghabiskan air ini. Aku tidak menghabiskan air ini.” Sembari membuang gelas di tangannya ia melanjutkan, “Engkau tidak boleh membunuhku.”
Seraya tersenyum, Umar berkata, “Gubernur, ini adalah siasat cerdikmu. Walau bagaimanapun, karena Umar telah berjanji, dia harus menepatinya. Karena itu, sekarang engkau bebas.”
Selang beberapa lama, Harmuzan kembali ke Madinah, ibu kota negara Islam, dengan membawa rombongan besar. Tapi kedatangannya yang ketiga kali ini ia bukan untuk menyerang melainkan untuk masuk Islam. “Wahai Amirul Mukminin, kami datang untuk mencari kehidupan baru. Undanglah kami kepada Islam,” kata Harmuzan di hadapan Sang Khalifah.
Perang adalah membunuh atau dibunuh, tapi janji tetaplah janji. Dalam keadaan segenting apa pun janji haruslah ditepati. Tidak ada tempat dalam Islam untuk berkhianat. Inilah moralitas Islam yang dijunjung tinggi  oleh para salafush-shalih (orang-orang terhadulu yang shalih) dan pemuka Islam hingga kini.
Boleh jadi kaum Muslimin mempunyai tabiat dan perilaku buruk, tapi dua hal yang tidak boleh ada pada setiap kaum Muslimin adalah khianat dan dusta.
Rasulullah menegaskan hal itu:
“Seorang Mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat tercela, kecuali khianat dan dusta.” (H.R. Al-Bazzaar)
Sebagai pemimpin, Rasulullah sendiri sering membuat perjanjian dengan musuh-musuhnya. Salah satu perjanjian yang sangat monumental sekaligus kontroversial adalah perjanjian Hudaibiyah. Para sahabat pada awalnya menentang isi perjanjian itu karena isinya sangat tidak adil dan dinilai merugikan pihak Islam. Maka ketika Rasulullah saw tetap meneken perjanjian itu, mereka kecewa. Umar karena kecewanya sempat berkata keras kepada Nabi SAW, “Ya Muhammad, apakah engkau masih seorang Rasul?”
Dalam penilaian sahabat, semua pasal dalam perjanjian itu tidak ada yang menguntungkan pihak Muslim, terutama pasal yang menyatakan bahwa jika ada penduduk muslim Mekah yang pindah ke Madinah, maka harus dikembalikan ke Mekah. Sementara jika ada warga Madinah yang ingin kembali ke Mekah tidak boleh dicegah.
Saat itu masih banyak  kaum Muslimin yang belum berhijrah ke Madinah. Mereka tinggal di Mekah di bawah tekanan keras kaum kafir Quraisy. Jika diketahui ada yang lari menyusul kaum kerabatnya hijrah ke Madinah, tak segan-segan kaum kafir Quraisy memberi hukuman, berupa siksaan yang amat keji.
Usaha untuk menyelamatkan kaum Muslimin Mekah telah dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi setelah perjanjian Hudaibiyah itu berarti usaha penyelamatan sudah tertutup sama sekali. Inilah yang sangat disesalkan oleh para sahabat.
Saat perjanjian berlangsung, ada sekelompok orang di bawah kepemimpinan Abu Jandal lari ke Madinah. Sesuai dengan perjanjian Hubaibiyah, pemimpin Quraisy menuntut agar Abu Jandal dan rombonganya dikembalikan ke Mekah. Dengan berat hati Rasulullah menyerahkan orang-orang tersebut pada penguasa Mekah. Lagi-lagi banyak di antara sahabat yang berkeberatan atas penyerahan ini, tapi demi perjanjian yang sudah ditanda tangani, pantang bagi seorang Rasul untuk menyelisihi. Janji harus ditepati.
Abu Jandal ternyata lebih cerdik dari penguasa Quraisy. Setelah sampai di daerah netral, ia bersama kelompoknya melakukan perlawanan dan menang. Ia kemudian mendirikan basis di tempat tersebut. Seperti sudah tahu tugas yang harus dilakukannya, kelompok ini kemudian memotong jalur perdagangan kafir Quraisy yang sangat strategis. Tidak sedikit kerugian yang diderita kaum kafir Quraisy akibat ulah kelompok ini, tapi mereka tidak bisa menunut kaum Muslimin untuk menghentikan perbuatan Abu Jandal tersebut, karena mereka berada di luar wilayah kekuasaan Madinah.
Di balik peristiwa itu ada fenomena yang menggembirakan. Dengan perjanjian itu ternyata jumlah kaum Muslimin di Mekah secara diam-diam justru terus bertambah. Walaupun dalam tekanan yang amat kuat, kaum Muslimin dengan keimanannya terus terdorong untuk melakukan da’wah. Mereka inilah yang kemudian dalam penaklukan Mekah sangat berperan besar, sehingga dalam peristiwa tersebut tidak sampai terjadi pertumpahan darah.
Pembebasan kota Mekah berjalan damai tanpa setetes darah pun mengalir. Inilah kemenangan yang direbut karena menghormati janji. Wallahu a’lam. [by Abu Zeidan. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidayatullah/www.hidayatullah.com]

Continue reading →

KOMPAS

Muslimdaily.net

Arrahmah

Palestina News

Followers

ClustrMaps

Info ccs

    W3 Directory - the World Wide Web Directory Page Ranking Tool

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner